Perpustakaan Wigati berdiri tahun 2015. Pada awal berdirinya, perpustakaan bisa dikatakan mati suri karena minat masyarakat untuk membaca yang sangat kurang. Pada awal berdirinya, perpustakaan Wigati memiliki 1.000 eksemplar 500 judul buku, yang berasal dari perpustakaan Jawa Timur. Tahun 2019 perpustakaan mendapat lagi 1.000 eksemplar 500 judul buku dari Perpusnas. Kemudian pada Februari 2019, perpustakaan mengikuti seleksi nasional. Dari 10 desa yang mengikuti seleksi nasional tersebut, perpustakaan Wigati Desa Glinggang termasuk 5 diantara yang mengikutinya. Kemudian pengurus perpustakaan diundang ke Jakarta untuk mengikuti Bimtek. Hingga pada akhir pelatihan, pengurus diberikan hibah buku, rak, computer, printer, server, dan televisi yang kedepannya diharapkan dapat menambah koleksi dan fasilitas di perpustakaan Wigati sendiri. Pengurus perpustakaan dipersilahkan untuk mengambil buku dari Pusnas sebanyak-banyaknya, saat itu mereka dapat mengambil 100 eksemplar buku dalam dua kali pengambilan. Selain itu, perpustakaan juga mendapat buku dari PKK Kecamatan dan dari masyarakat sekitar. Jadi jika ditotal saat ini, perpustakaan memiliki koleksi sekitar 2.335 eksemplar
Perpustakaan Wigati buka pada hari Selasa dan Sabtu. Sebelum pandemi minat masyarakat untuk membaca lumayan banyak, terutama dari para petani yang datang untuk mencari buku tentang teknik atau metode pertanian. Ada juga anak-anak yang ke perputakaan untuk mencari buku cerita. Selain itu, buku lain yang menjadi koleksi perpustakaan Wigati adalah buku tentang budidaya, perikanan, peternakan, agama, dan umum. Setelah pandemi, tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan berkurang. Menanggapi hal tersebut, perpustakaan bekerjasama dengan masyarakat untuk mengadakan kegiatan promosi online untuk produk-produk Desa Glinggang seperti batik yang dipasarkan lewat perpustakaan, melaksanakan kegiatan lomba dan pelatihan-pelatihan.. Dengan adanya kegiatan-kegiatan inilah yang menyebabkan pada saat ini perpustakaan Wigati merupakan perpustakaan yang berbasis inklusi social. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang menfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha. Dengan adanya hal ini, diharapkan dapat menciptakan kesadaran masyarakat untuk berkembang dan keswadayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Proses peminjaman buku di perpustakaan Wigati terbilang cukup mudah. Masyarakat hanya perlu datang ke perpustakaan, memilih buku yang diinginkan dan mengisi kartu peminjaman buku. Untuk masa meminjam buku paling lama adalah satu minggu, jika lebih dari itu maka masyarakat harus memperbarui masa pinjaman dengan datang ke perpustakaan atau bisa kirim pesan ke petugas perpustakaan melalui media Whatsapp. Untuk saat ini buku induk perpustakaan Wigati masih berbasis manual. Sebenarnya pengurus perpustakaan Wigati pernah bekerjasama dengan perpustakaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo untuk melakukan pelatihan input buku induk perpustakaan berbasis elektronik. Saat itu ada 3 pengurus perpustakaan Wigati yang melakukan pelatihan. Tetapi setelah pelatihan, dua diantaranya bekerja keluar negeri, sehingga menyebabkan hasil dari pelatihan tersebut belum bisa diimplementasikan dengan baik di perpustakaan Wigati.