Budaya Lingkungan Hidup Desa Glinggang
Perwujudan Kebudayaan Desa Glinggang
Masyarakat Indonesia memiliki ciri khas seperti kebanyakan negara yaitu kebudayaan. Unsur kebudayaan dalam masyarakat sendiri merupakan keseluruhan yang kompleks termasuk di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat dan segala kemampuan dan kebiasaan lain yang ada di tengah masyarakat.
Kebudayaan sendiri lebih ditujukan kepada sesuatu yang dilakukan secara tradisional. Tak terkecuali yang dilakukan oleh masyarakat Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo. Banyak kebudayaan yang masih mereka lestarikan, baik dalam wujud upacara tradisional maupun benda atau tempat bersejarah, diantaranya adalah Upacara Adat Methik dan Rumah Budaya.
Upacara Adat Methik, Perwujudan Rasa Syukur Masyarakat Lewat Budaya Tradisional
Desa Glinggang di dominasi dengan lahan pertanian yang luas, terutama lahan penghasil padi yang mendominasi lahan di desa. Hasil panen yang berlimpah disambut bahagia segala lapisan masyarakat, mulai dari acara sederhana perorangan hingga yang diadakan besar-besaran oleh masyarakat desa. Salah satu upacara tradisional yang dilaksanakan adalah upacara Methik.
Methik diambil dari bahasa jawa atau yang bisa diartikan “memetik” oleh masyarakat. Upacara Methik merupakan sebuah ritual adat yang dilakukan khususnya oleh petani padi. Upacara ini dilaksanakan sebelum panen raya dilakukan, pemetikan pertama ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas panen yang akan diperoleh. Upacara Methik dilaksanakan masyarakat desa setiap tahun, tergantung dengan masa panen.
Prosesi upacara Methik dimulai dengan pengumpulan ingkung/tumpeng. Sekedar informasi, Ingkung dan tumpeng adalah makanan khas masyarakat jawa yang disajikan ketika ada upacara adat atau syukuran. Ingkung dalam upacara Methik sendiri dikumpulkan dari warga sebanyak 3 ingkung per RT dan dikumpulkan menjadi satu. Prosesi selanjutnya yaitu proses doa bersama yang di pimpin oleh sesepuh desa (orang yang di tuakan di desa) dan kemudian diarak menuju ke sawah yang telah ditandai dengan blarak (daun kelapa yang sudah kering) yang ditancapkan di pinggir pematang sawah. Sawah yang digunakan dalam upacara biasanya adalah milik Kepala desa. Dengan membawa parem dan cok bakal (sesaji inti dalam masyarakat Jawa, dengan pengertian cikal bakal, yaitu permulaan adanya manusia dan kawitan). Dibawanya cok bakal dan parem bertujuan sebagai bentuk tolak bala atau terhindar dari hama.
Tahap selanjutnya yaitu pemotongan padi pertama dengan jumlah ganjil sebanyak 11 batang yang diartikan sebagai doa dan harapan agar mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Padi yang telah dipotong diberikan kepada Kepala Desa, lalu dibawa dengan cara digendong menuju Balai Desa untuk diserahkan kepada sang istri. Hal ini diwujudkan sebagai simbol harapan agar hasil panen berlimpah.